Kenapa Hindu Sembahyang Memakai Kemenyan/Dupa dan Bunga?
Kunjungi
Home » » Kenapa Hindu Sembahyang Memakai Kemenyan/Dupa dan Bunga?

Kenapa Hindu Sembahyang Memakai Kemenyan/Dupa dan Bunga?

Pertanyaan ini dari seorang teman yang berbeda agama, lantas saya sendiri berani menjawabnya dengan gamblang sesuai ilmu yang saya pelajari dari Weda.

"Kenapa semua yang berbau harum seperti kemenyan atau dupa atau yang indah-indah selalu dipandang negatif oleh agama anda, apabila Tuhan anda tidak menyukai yang harum atau indah, lalu apa yang Tuhan anda sukai?"

Cobalah anda lihat di timur tengah atau misalnya negara Mesir ketika mereka pergi bekerja, sepertinya banyak yang yang menggosokan wewangian ditubuhnya. Bahkan negara-negara timur tengah pohon kamboja menjadi menjadi sangat disenangi dan menjadi penghias kantor.

Karena di Timur tengah itu pohon kamboja atau bunganya menjadi simbol kedamaian juga sebagai aroma terapi.

Coba juga simak dan ingat disetiap kuburan pastinya selalu ada pohon kamboja yang menaungi. Selain itu setiap gereja ata wihara juga ada Dupa atau kemenyan sebagai simbol kedamaian.

Maka dari itu dupa dalam upacara umat hindu disimbolkan sebagai upasaksi atau sang penyaksi dari upacara persembahyangan umat hindu.

Bunga dalam setiap upacara agama Hindu juga bermakna sebagai kembang atau mengembangkan segala pemikiran dalam umat sedharman.

Satu lagi setiap acara di agama hindu itu selalu menggunakan kidung atau seni suara, tari dan hiasan janur, semua itu adalah bentuk ekspresi manusia dan bermanfaat menghaluskan budi pekerti, etika setiap insan umat hindu.

Bhagawadgita sloka 9.26    patram puṣpam phalam toyam  yo me bhaktyā prayacchati  tad aham bhakty-upahṛtam  aśnāmi prayatātmanaḥ

Dalam kitab Weda juga dijelaskan ;

Bhagawadgita sloka 9.26

patram puṣpam phalam toyam
yo me bhaktyā prayacchati
tad aham bhakty-upahṛtam
aśnāmi prayatātmanaḥ

patram  (sehelai daun), puṣpam (setangkai bunga), phalam (buah-buahan), toyam (air)

Artinya:

Apapun yang engkau persembahkan kepada-Ku, sehelai dedaunan, setangkai kembang, sepercik air, buah-buahan atau biji-bijian dengan cinta kasih tulus ikhlas dan bhakti dengan kesadaran yang suci dan murni, akan  Ku terima.

Kutipan kitab Bhagawadgita tersebut menjelaskan dengan sangat jelas. Tentunya bagi anda yang masih minder terhadap pertanyaan tentang persembahan kemenyan/dupa atau bunga dari umat/agama lain hendaknya sudah bisa menjawab dengan bijak.

0 komentar:

Post a Comment